Terima kasih mba @hanumrais “Berjalan di Atas Cahaya” nya sudah sampai. Siap dilahap! :)

Terima kasih mba @hanumrais “Berjalan di Atas Cahaya” nya sudah sampai. Siap dilahap! :)

Finishing a good book is always so bitter sweet.

masih ada 4 buku memanggil-manggil minta dibaca.. o+<

(Source: herbhead, via fuckyeahreading)


Little things I love about reading.
  1. The way my heart jumps when I find a promising book.
  2. When I connect with a protagonist. 
  3. When the hours drift away as the words and pages pass by.
  4. The silence and solitude offered by books.
  5. Forgetting stresses and whatever else is going on in my life.
  6. The sometimes cliched, but totally worth it, romance.
  7. The blood-pumping adventure.
  8. The need to know more.
  9. My ever-growing to-read pile of books.
  10. That I can read nearly anywhere, regardless of what anyone thinks.

(Source: bookaddict24-7, via fuckyeahreading)


&#8220;Cinta di Ujung Jari&#8221; nya @muhammadakhyar dan @nayasaa udah sampaiiiii..
Kesan pertama: covernya keren @ragilliarach! :)
Dan baru baca satu kalimat di bagian belakang,


&#8220;Bahkan jika tiap hela nafasmu adalah derita, masih ada jeda antar hela tempat kau bisa bahagia.&#8221;


hati udah berdesir-desir.. Sudah bisa dibayangkan isi bukunya bakal se- galau apa. #eh
:p
*seduh kopi, baca bukunya*
&#8230; dan sukses buat kalian semua! ^^

“Cinta di Ujung Jari” nya @muhammadakhyar dan @nayasaa udah sampaiiiii..

Kesan pertama: covernya keren @ragilliarach! :)

Dan baru baca satu kalimat di bagian belakang,

“Bahkan jika tiap hela nafasmu adalah derita, masih ada jeda antar hela tempat kau bisa bahagia.”

hati udah berdesir-desir.. Sudah bisa dibayangkan isi bukunya bakal se- galau apa. #eh

:p

*seduh kopi, baca bukunya*

… dan sukses buat kalian semua! ^^

First time beli di Toko Buku Online Delisa. Lengkap sudah Tere Liye&#8217;s nya plus tanda tangan pula. Alhamdulillah.. :)

First time beli di Toko Buku Online Delisa. Lengkap sudah Tere Liye’s nya plus tanda tangan pula. Alhamdulillah.. :)




Kalau melihat-lihat sejarah perjalanan hidup manusia, bisa jadi cinta adalah hal yang paling sering dibicarakan, digugat, dan dipertanyakan. Apakah cinta bisa didefinisikan? Bagaimana rupa cinta itu? Semua orang bertanya-tanya tentang cinta. Melalui Cinta Di Ujung Jari, Muhammad Akhyar dan Nayasari Aissa mencoba memberi pandangan mereka tentang cinta dalam cerita, yang terangkum dalam kisah hidup manusia. Kisah dalam buku ini dibuka dengan petikan kalimat menarik, “Aku menunggu (cinta) karena aku tak tahu dari mana ia akan datang, aku takut dia melewatiku atau aku melewatinya.”  Drama tunggu-menunggu cinta ini kemudian diikuti dengan kumpulan dialog-dialog tentang cinta. Dari yang menggemaskan, menggoda, menyakitkan, semuanya. Bukankah cinta seringkali bermula dari dialog-dialog tanpa pretensi apa-apa? Dari dialog-dialog berlanjut ke perkenalan, pertemuan lebih lanjut, dan berakhir pada perasaan.
Kemudian simak kisah Utara dan Naira. Dua orang yang saling mencinta, tetapi tidak saling mencinta. Keduanya mencoba membaca tanda. Cintakah dia padaku, cintakah aku padanya. Jika pada akhirnya mereka bisa membaca tanda, apakah sebenarnya jatuh cinta memang ada tandanya? Bagi Naira, tanda itu bisa berupa jantung berdegup tak karuan, muka yang memerah, tangan yang gemetaran, perasaaan yang campur aduk. Cinta bagi Naira tidak bisa dideskripsikan, serta tidak bisa disembunyikan. Lalu bagaimana dengan Utara? Siapkah dia dengan perasaannya sendiri? Apakah cinta perlu kesiapan? Membaca kisah keduanya membuat saya merasa perlu untuk terus mengikuti kelanjutannya. 
“Mungkin saatnya, kita harus berhenti lalu kemudian pergi dan lupa.” 
Ketika cinta tidak berujung pada pastinya, itukah saatnya kita melupakan cinta dan pergi sejauh-jauhnya? Cinta adalah fenomena temporal. Seringkali kita dibuat bingung menanggapi cinta yang awal terhadap cinta yang datang belakangan. Hal ini pula yang menjadi pusat kebimbangan Naira ketika Ghazi datang padanya. Sedangkan Utara menjadi sekedar pengalaman masa lalunya yang justru membuat Naira bimbang dalam menentukan arah selanjutnya. Banyak orang yang datang dan pergi dalam hidup kita, demikian pula cinta. Lalu bagaimana Naira harus melanjutkan hidupnya ketika ia kembali dipertemukan oleh Utara?
Cinta Di Ujung Jari menyuguhkan kisah cinta yang siap hidang. Cinta yang sudah ada di ujung jari dan kita tinggal duduk tenang menikmatinya. Seolah seluruh cinta di seluruh dunia dirangkum dan siap untuk ditelan. Tulisan Nayasari yang lugas dan tulisan Akhyar yang mengajak kita untuk merenung, merupakan kombinasi yang menarik dari buku ini. Selain itu, buku ini juga kental akan referensi. Mulai dari Goenawan Mohammad, Sitok Srengenge, Sapardi Djoko Damono, hingga Sutardji Calzoum Bachri. Mulai dari persoalan memohon cinta pada Tuhan hingga tentang cinta Bulan pada Pungguknya. Lalu, cinta seperti apa yang kamu cari?
Yunus Kuntawi Aji
Tukang baca dan juru ketik.



salah satu good-book-must-buy di tahun 2013 kah? mari kita tunggu pre-ordernya dibuka.. :D

Kalau melihat-lihat sejarah perjalanan hidup manusia, bisa jadi cinta adalah hal yang paling sering dibicarakan, digugat, dan dipertanyakan. Apakah cinta bisa didefinisikan? Bagaimana rupa cinta itu? Semua orang bertanya-tanya tentang cinta. Melalui Cinta Di Ujung Jari, Muhammad Akhyar dan Nayasari Aissa mencoba memberi pandangan mereka tentang cinta dalam cerita, yang terangkum dalam kisah hidup manusia. Kisah dalam buku ini dibuka dengan petikan kalimat menarik, “Aku menunggu (cinta) karena aku tak tahu dari mana ia akan datang, aku takut dia melewatiku atau aku melewatinya.”  Drama tunggu-menunggu cinta ini kemudian diikuti dengan kumpulan dialog-dialog tentang cinta. Dari yang menggemaskan, menggoda, menyakitkan, semuanya. Bukankah cinta seringkali bermula dari dialog-dialog tanpa pretensi apa-apa? Dari dialog-dialog berlanjut ke perkenalan, pertemuan lebih lanjut, dan berakhir pada perasaan.

Kemudian simak kisah Utara dan Naira. Dua orang yang saling mencinta, tetapi tidak saling mencinta. Keduanya mencoba membaca tanda. Cintakah dia padaku, cintakah aku padanya. Jika pada akhirnya mereka bisa membaca tanda, apakah sebenarnya jatuh cinta memang ada tandanya? Bagi Naira, tanda itu bisa berupa jantung berdegup tak karuan, muka yang memerah, tangan yang gemetaran, perasaaan yang campur aduk. Cinta bagi Naira tidak bisa dideskripsikan, serta tidak bisa disembunyikan. Lalu bagaimana dengan Utara? Siapkah dia dengan perasaannya sendiri? Apakah cinta perlu kesiapan? Membaca kisah keduanya membuat saya merasa perlu untuk terus mengikuti kelanjutannya. 

“Mungkin saatnya, kita harus berhenti lalu kemudian pergi dan lupa.” 

Ketika cinta tidak berujung pada pastinya, itukah saatnya kita melupakan cinta dan pergi sejauh-jauhnya? Cinta adalah fenomena temporal. Seringkali kita dibuat bingung menanggapi cinta yang awal terhadap cinta yang datang belakangan. Hal ini pula yang menjadi pusat kebimbangan Naira ketika Ghazi datang padanya. Sedangkan Utara menjadi sekedar pengalaman masa lalunya yang justru membuat Naira bimbang dalam menentukan arah selanjutnya. Banyak orang yang datang dan pergi dalam hidup kita, demikian pula cinta. Lalu bagaimana Naira harus melanjutkan hidupnya ketika ia kembali dipertemukan oleh Utara?

Cinta Di Ujung Jari menyuguhkan kisah cinta yang siap hidang. Cinta yang sudah ada di ujung jari dan kita tinggal duduk tenang menikmatinya. Seolah seluruh cinta di seluruh dunia dirangkum dan siap untuk ditelan. Tulisan Nayasari yang lugas dan tulisan Akhyar yang mengajak kita untuk merenung, merupakan kombinasi yang menarik dari buku ini. Selain itu, buku ini juga kental akan referensi. Mulai dari Goenawan Mohammad, Sitok Srengenge, Sapardi Djoko Damono, hingga Sutardji Calzoum Bachri. Mulai dari persoalan memohon cinta pada Tuhan hingga tentang cinta Bulan pada Pungguknya. Lalu, cinta seperti apa yang kamu cari?

Yunus Kuntawi Aji

Tukang baca dan juru ketik.

salah satu good-book-must-buy di tahun 2013 kah? mari kita tunggu pre-ordernya dibuka.. :D

(Source: kuntawiaji)

The Casual Vacancy

The Casual Vacancy

Talkshow #TNT4 with @TrinityTraveler

5 Oktober 2012 di Djendelo Cafe, Togamas Affandi, Yogyakarta

Hahahahaha.. Ini ceritanya “menyeret” Shelly untuk ikutan talkshow ini. :p

Tapi seneng kan Shel? Seneng pasti! :D

Tujuan utamaku sendiri sebenernya minta tanda tangan mba Trinity untuk buku TNT 4-nya. Karena kebetulan hanya buku ini yang belum ada tanda tangannya (buku yang lain sudah ada tanda tangannya di acara serupa, sebelumnya).

Dateng telat, karena kami kelaparan dan makan malam dulu setelah nonton Perahu Kertas 2, kami cuma bisa menyimak talkshow sambil berdiri di tangga. :))

Setelah selesai talkshow, antri untuk booksigning yang lumayan panjang dan panas (si Shelly bahkan sempet beli komik dulu) hahaha.. Akhirnya berhasil dapet tanda tangan di TNT4 dan foto bareng.

Kalau diceritain lebih detail lagi, akan kebongkar nanti “kebodohan-kebodohan” kami. Jadi cukup segini saja. ;)

dua cover buku ini sangat apik.. i love it! :3 (Taken with Instagram)

dua cover buku ini sangat apik.. i love it! :3 (Taken with Instagram)

Sepenggal Cerita

Akhirnya selesai juga baca buku ini, Surat Cinta untuk Ayah Bunda. Sebuah buku karya Muhammad Akhyar.

Sudah banyak yang selesai baca buku ini juga, sudah banyak juga komentar, tanggapan, pujian mengenai buku ini, dan postingan kata-kata bagusnya. 

Kalau dari saya, simple, ini karya sastra yang apik. Buku yang ketika dibaca, membuat yang membacanya ber-ooh dan menganggukkan kepala tanda setuju atau tanda mendapat pengetahuan baru. :)

Nggak rugi! Udah ribet email-emailan dan sms untuk mengambil buku ini di ITC Depok. Hehehe.. 

Bonusnya bisa ketemu langsung sama penulisnya, sedikit ngobrol, dan nodong tanda tangan plus coretan di bukunya, seperti ini :

Tuhan memang telah menentukan segalanya, tetapi bukankah iktiar adalah kewajiban kita.

Terima kasih!